Home Berita LLDIKTI Pola Baru Pendidikan Vokasi

Pola Baru Pendidikan Vokasi

283
0
SHARE
Pola Baru Pendidikan Vokasi

LLDIKTI Wilayah X menyelenggarakan diskusi daring bertemakan “Pola Baru Dan Arah Pendidikan Vokasi” bersama Ditjen Pendidikan Vokasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Acara tersebut diikuti oleh pimpinan Perguruan Tinggi Swasta yang menyelenggarakan program studi di bidang vokasi, Jumat (19/6/2020).

Kepala LLDIKTI Wilayah X Prof. Dr. Herri, MBA mengatakan di provinsi Sumatera Barat, Riau, Jambi, dan Kepulauan Riau terdapat sebanyak 242 program studi vokasi yang diselenggarakan oleh Perguruan Tinggi Swasta.

Dari 242 program studi tersebut, terdapat 211 jenjang D3 dan 31 jenjang D4. Sebanyak 23.822 mahasiswa terdaftar. Dilihat dari peringkat akreditasinya, 7 program studi sudah terakreditasi A, 116 terakreditasi B, dan 7 program studi terakreditasi C.

Di tengah pandemi Covid-19 kata Prof. Herri, mutu pendidikan vokasi harus terus ditingkatkan. Lulusan pendidikan vokasi akan menjadi tenaga kerja di dunia industri. Oleh karena itu, memasuki new normal ini mari kita siapkan lulusan yang memiliki kompetensi dan menjadi tenaga kerja Indonesia yang handal.

Sementara itu, Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi Kemendikbud Wikan Sakarinto, S.T., M.Sc., Ph.D mengatakan bahwa saat ini pendidikan vokasi mendapat perhatian khusus dari pemerintah. Program yang sudah dilaksanakan pada tahun lalu sudah berjalan dengan baik. Namun, sekarang tantangannya adalah link and match dengan pihak industri sebagai pengguna dari lulusan perguruan tinggi.

Lebih lanjut, Dirjen Pendidikan Vokasi menyampaikan agar seluruh kampus vokasi harus memiliki insting dan sensitif terhadap kebutuhan dunia kerja. Perguruan tinggi harus mampu menjawab kebutuhan masa kini dan masa depan dengan lulusan yang handal dan punya daya saing.

Menurut Wikan, pernikahan massal antara pendidikan vokasi dan dunia industri sangat perlu diwujudkan. Maksudnya, perguruan tinggi bersama industri bersama-sama menyusun kurikulum, menghadirkan dosen tamu dari kalangan praktisi, program magang, komitmen dalam menyerap lulusan, mengenalkan teknologi dan proses kerja industri, sertifikat kompetensi yang dikeluarkan bersama, joint research, beasiswa, dan bantuan peralatan laboratorium.

“Dunia industri terus berubah. Kampus harus mampu menjawab tantangan itu dengan menghasilkan lulusan yang handal dan berdaya saing. Perguruan tinggi harus sensitif dan segera merespon  dengan melihat kebutuhan industri,” ungkap Wikan.

Wikan mengatakan ke depannya, Ditjen Pendidikan Vokasi Kemendikbud merencanakan pembelajaran pada program studi vokasi diisi oleh dosen tamu dari kalangan industri. Jumlah jam mengajar bisa mencapai 50 jam per semester.

Untuk itu, Wikan mengatakan ada beberapa hal yang perlu segera dilakukan perguruan tinggi dalam mengahadapi tantangan baru pada masa pandemi dan dalam memasuki new normal pada penyelenggraan pendidikan tinggi.

Bagi kampus yang sudah menjalin kerja sama dengan pihak industri silakan dilanjutkan dengan berdiskusi lebih lanjut. Kaji secara mendalam tentang kebutuhan dunia industri dan penyempurnaan kurikulum sehingga lulusan benar-benar memiliki kompetensi yang unggul.

“Kampus bisa saja membuat program studi bersama dengan pihak industri, menyusun kurikulum bersama dengan tujuan lulusan bisa direkrut langsung sesuai kebutuhan industri yang terus berubah. Poinnya adalah bagaimana perguruan tinggi membuat mahasiswa yang memiliki komitmen belajar sepanjang hayat untuk Indonesia hebat,” kata Wikan.

Peningkatan kualitas lulusan, tentunya tidak saja dengan melakukan kerja sama dengan pihak industri. Ada pemerintah dan NGO yang bisa dijadikan partner.

Menurut Wikan, sekarang kepuasan stakeholders terkait mutu lulusan akan menjadi pertimbangan pada saat pemeringkatan akreditasi. Paradigmanya akan digeser menjadi output dan outcome yang dihasilkan. Kalau industri komplain, hal ini akan menurunkan peringkat akreditasi.

“Akreditasi bukan lagi ulang tahun administrasi. Tetapi, pola baik yang rutin dan tercermin pada kualitas lulusan yang istimewa. Karena itu, kuliah di perguruan tinggi itu adalah investasi masa depan,” tutup Wikan.