Home Berita LLDIKTI Pengembangan Karir Dosen

Pengembangan Karir Dosen

859
0
SHARE
Pengembangan Karir Dosen

LLDIKTI Wilayah X bersama Direktorat Sumber Daya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyelenggarakan dialog daring membahas tentang pengembangan karir dosen, Senin (13/7/2020).

Kepala LLDIKTI Wilayah X Prof. Dr. Herri, MBA mengatakan di empat provinsi (Sumbar, Riau, Jambi, dan Kepulauan Riau) dari 9.435 dosen, 7 persen di antaranya sudah memiliki latar pendidikan S3. Jumlahnya masih sangat sedikit, yaitu sekitar 719 orang.

Dari kondisi tersebut, Kepala Lembaga menjelaskan bahwa terkendalanya dosen di lingkungan LLDIKTI WIlayah X disebabkan oleh terbatasnya program S3 dan ketersediaan beasiswa untuk studi lanjut.

“Saat ini, jumlah dosen dengan kualifikasi jenjang pendidikan S2 didominasi oleh program studi kesehatan, ekonomi, kependidikan, komputer, dan teknik. Sementara itu, untuk melanjutkan studi terkendala dengan ketersediaan program studi serta kuota beasiswa,” ucap Prof. Herri.

Pada kesempatan tersebut, Direktur Sumber Daya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Dr. Mohammad Sofwan Effendi, M.Ed mengatakan dosen merupakan elemen utama dalam perguruan tinggi. Lulusan yang handal tentunya akan lahir dari kampus yang memiliki dosen dengan kualifikasi unggul.

Dalam menyukseskan program Merdeka Belajar Kampus Merdeka dosen diharapkan hadir sebagai penggerak. Dosen bisa berkolaborasi dalam berbagai kegiatan kemahasiswaan. Pengetahuan yang didapat di kampus dapat diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat. Sedangkan nilai-nilai dari luar kampus dapat diserap dalam pengembangan proses pembelajaran.

Lebih lanjut, Mohammad mengatakan jumlah dosen yang memiliki pengalaman bekerja atau tersertifikasi oleh industri maupun lembaga sertifikasi profesi juga perlu ditingkatkan. Selain itu, dosen juga harus produktif dalam menulis artikel untuk diterbitkan dalam jurnal ilmiah.

Mohammad menjelaskan bahwa dalam memilih publikasi pada jurnal internasional perlu mempertimbangkan beberapa hal seperti identitas jurnal (nama, scope, informasi terbitan, jenis artikel, dan indeksasi), editorial board, cara pengiriman artikel termasuk review artikel, author guideline, keberkalaan terbitan, diversity penulis, konsistensi penulisan artikel.

Menurutnya, beberapa kendala yang menyebabkan terjadinya kegagalan publikasi karya ilmiah adalah tidak adanya novelty, di luar scope penulisan/submission, tidak mengikuti guidance, tabel dan gambar tidak berkualitas, terindikasi scientific misconduct, citation vs reference, dan jurnal tidak bereputasi.